Tentang dia

December 5th, 2006 by cobasajak

Hari ini ia tampak berbeda, berbeda sungguh, walau tidak ada satu keterkejutan yang begitu dari diriku sendiri atas tampil bedanya ia hari ini. Ia begitu lincah, mudah sekali tersenyum, tidak canggung dan ragu-ragu tidak seperti ia yang biasanya. Ia begitu mudah berbicara, lantang dan terdengar nyaring, sedangkan sebelumnya begitu rumit dan sulit untuk memancingnya berbicara. Menunggu sekian masa dan saat, bersabar menanti rongga-rongga tempat pita suaranya mengalirkan getar-getar resonansi untuk menjadi sebuah kata, dan seringnya yang terjadi justru adalah kelu, kelu yang hadir, bisu yang terjadi menyelimuti harap akan munculnya sebuah kata. Padahal kupikir dia yang ingin bersuara.

 Ia begitu ceria, ada senyum yang merekah ketika ia diajak bercanda, dan tertawa lepas, ketika satu dua lelucon terlontarkan, bahkan ketika lelucon itu bukan untuknya, bukan tentangnya. Ia bergerak larikanan-kiri menghindar perlahan mencoba berlari ketika jejak langkahnya coba ku jaga, ku goda dan ku hentikan agar tak berlanjut, dalam senyum mungilnya ia mencoba mencari jalan keluar, meretasi jejak langkah menuju tujuan mulanya.

 Biasanya ia diam seribu bahasa, begitu sulit dimengerti apa yang dia kehendaki, betapapun ku coba menyelami dan mencari makna disudut dua bola matanya yang menatap tajam ketika hendak bersuara. Biasanya satu-satu dua-satu satu-dua derap langkah kakinya perlahan saja menyusuri detak-detik waktu yang bergerak perlahan menuju pertengahan hari. Perlahan , tertinggal, namun ada pancaran dalam yang terekspresi dari raut mukanya. Mungkinkah ia sedang mengkritisi waktu yang bersinggungan dengannya. Tak pernah, belum dapat dimengerti, ah.. mungkin ia belum ingin dimengerti…

 Lalu coba kemudian kutelusuri lorong-lorong waktu yang telah terlalui.Perubahannya yang mulai terjadi. Apakah sekarang ia sudah mulai merasa nyaman. Adakah sekarang ia sudah mulai merasa dekat.. Bilakah ia sudah mulai merasa memiliki, bahwa ia dan kami adalah satu, satu keluarga. Sehingga kemudian ia merekahkan satu-satu kristal pekat yang menyelimutinya, memunculkan ia, ia yang sebenarnya.

Ia yang katanya berbeda sekali dengan ia yang dikenal selama ini disini. Ia yang lebih baik, ia yang kritis, ia yang pemberani, ia yang ramah dan mau berbagi.

Semoga perlahan pasti ada bening yang terpijar dari rekah perlahan-lahannya kristal pekat. 

Ada

cahaya yang terpancar kemudian dan semoga bukan sesaat.

Menggeliatlah duhai calon kupu-kupu, segera rentangkan sayap-sayapmu, kepakan kemudian sayap-sayap itu meninggi dan kemudian temuilah indah dunia.

Kangen Laut Dalam Badai

November 26th, 2006 by cobasajak

Aku ingin pergi kelautan…

Bebas.. melayang…

Merasakan debur gelombangnya…

Debur debur .. serta desir angin yang menghantam dahsyat…

Aku ingin pergi kelautan….

Ke pertengahannya…

Menembus badai-badai…

Keterasingan yang penuh misteri…

Keindahan…

Aku ingin pergi kelautan…

Lihat buih-buih ombaknya…

Menghantam karang…

Biru pekat… dalam gelap…

Ketika badai… dan hujan menggelegar…

Berada diantaranya…

Aku ingin pergi kelautan…

Sendiri… menghilang dalam sepi…

Memejamkan mata…

Menghirup perlahan lahan nuansanya…

Percik percik air membasahi…

Membaui aromanya… badai..

Aku ingin ada dilautan…

                                                                        26 November 2006

                                                          Kangen Lautan Dalam Badai

Jalan Yang Tidak Kutempuh

October 21st, 2006 by cobasajak

Dua jalan bercabang dalam remang hutan kehidupan,..
dan sayang aku tidak bisa menempuh keduanya
Dan sebagai pengembara, aku berdiri lama
Dan memandang ke satu jalan sejauh aku bisa
Kemana kelokannya mengarah dibalik semak belukar..

Kemudian aku memandang yang satunya, sama bagusnya,..
Dan mungkin malah lebih bagus
Karena jalan itu segar dan mengundang
Meski tapak yang telah melewatinya..
Juga telah merundukkan rerumputannya,.

Dan pagi itu dua-duanya sama-sama membentang
di bawah hamparan dedaunan rontok yang belum terusik
Oh ! kusimpan jalan pertama untuk kali lain!
Meski tahu semua jalan berkaitan..
Aku ragu aku akan pernah kembali..

Aku akan menuturkannya sambil mendesah
Suatu saat berabad-abad mendatang;
Dua jalan bercabang di hutan, dan aku..
Aku menempuh jalan yang jarang dilalui
dan itu mengubah segalanya..

(Robert Frost/1916)

Path

October 7th, 2006 by cobasajak

It’s realy hard

to pull back my self from the valley

when desperately i thrown myself to the jungle

where it’s seem i so brave where actualy i’m feared…

disapointed.. to through the heart it’s actualy not…

but how do i so foolishly brave…

now walking side to side in this darkness…

where is the light… that’s slightly give me hope…

but then goes far away…

there’s no agility… by mine..from me…

still don’t know why.. and for how long…

put a step ahead.. long a long around this… path…

still looking thing.. that can build again and give me something to believe..

share and share..

Walking on the path.. which i choose… a questionable one.. the place where accepted me as what i was..

Menjaring Bahagia

August 20th, 2006 by cobasajak

"….Seandainya Bahagia Itu Bukan Milikku, Jadikan Sajalah Aku Orang Yang Selalu Tulus, Ikhlas Dan Pandai Bersyukur…."

Ada Harap Yang Kembali Hadir…. Menghias kembali hari-hari,.. menengadahkan kembali jiwa yang terpuruk.. bahwa masih ada dunia diatas sana,.. namun aku masih gamang untuk melangkah,.. masih ragu untuk kembali mendaki… kilas-kilas silam ke depan terpendar.. biasnya berlarian…

Ada mimpi yang kembali hadir,..  apakah menghidupkan kembali hati yang hampir mati,.. ataukah hanya menambah kembali goresan noda hitam di kanvas kanvasnya yang tak lagi putih,. buram tanpa harap…. ngilu mengaram meninggalkan senja…

Ada angan asa yang kembali terbang,.. sayap-sayapnya tergoda sepoi angin untuk kembali mengangkasa… namun adakah kali ini tulus,.. atau ia hanya terbang untuk jatuh kembali.. terpuruk diangan mimpinya.. kembali ke lembah-lembah kelam..

Sudah sekian saat… meniti langkah di sesuatu yang tak pasti.. bila ini abu-abu.. biarlah tokh ini abu-abuku.. aku sedang mencari Putih.  Bila hitam yang terlalu nampak.. duhai terimakasih… aku harus segera beranjak… membilas rajutannya menjelma bersih.. Namun kuyakin ini bukan putih.. karena aku adalah aku yang seperti ini… namun aku hanya ingin putih… inilah jalanku..

Bila kemudian ini harap,. mimpi,. asa,.. biarlah ia berlarian hadir,.. membawa aku kembali ceria… ,membunuh muramku… menuju masa depanku…. yang mengais ngais menata langkah kaki dan hati… menjadi sebuah titik… dalam serangkai garis panjang… perjuangan…

Perjuangan siapa…????

Bilakah salah

July 31st, 2006 by cobasajak

Apakah kemudian aku salah menempuh jalan.. ini..

memilihnya.. melalui dan meneguhkan hati pada pilihan ini…

Jika ini adalah sebuah jalan kebaikan yang dapat aku lakukan..

untuk membagi cinta.. dan saling memperbaiki diri..

Jika disini.. aku bisa merasa mempunyai arti..jadikanlah aku teguh memegang niatan ini..

Jika jalan yang harus ditempuh sperti ini.. .

temukanlah aku dengan hakikat.. sehingga tak ada perubahan niat..

Entah.. Aku mungkin sedang berada dipersimpangan…

dan tak tahu hendak kemana..

mimpiku mungkin bukan disana.. tapi disini…

bersama pilihan-pilihan…

adalah bukan idealisme ternyata… sebab ternyata aku juga bukan sosok yang idealis….

namun bagai pepatah lama.. ke roma tak hanya bisa ditempuh melalui satu cara…

Teguhkanlah, niatkanlah.. ini jalur hidupku,.. pilihanku..

jadikanlah semua ini bertautan.. menuju sebuah kebaikan..

Di dunia kita, bukan dunia mereka..

sebab dunia mereka terlalu tinggi,.. untuk digapai dan diraih…

yang begitu terpesona dengan atribut-atribut….

mesti sejatinya.. nurani mereka juga sangatlah tinggi…

namun hidup untuk berbagi.. kepada siapapun untuk siapapun…

seorang panglima tidak mesti menjadi yang terpandai,.. yang terpintar.. bermain pedang,.. yang termahir menunggang kuda…

sebab ia tidak memilih untuk dilahirkan menjadi seorang panglima.. atau hanya prajurit biasa…

Sajak Lama

July 21st, 2006 by cobasajak

Kutemukan,.. diantara serakan… lembar-lembar

coretan tanpa makna..

ketika kaki sedang melangkah

Bangkitlah engkau

Wahai jiwa yang bersembunyi

Bangkitlah engkau

Wahai diri yang tersembunyi

Betapa selama ini langkah-langkahmu

Tak terarah

Tercerai berai..tanpa makna

Kadang lelah

Terpinggirkan bersama tenggelam mentari

Di senja kala

Kadang lunglai

Menjauh bersama sepoi angin yang meninggalkan daratan

Kadang diam

Bagai karang yang terhantam deburan gelombang

Tanpa bis menghindar dan berlari

Bangkitlah engkau

Wahai jiwa yang masih belum menemukan arah..

Bangkitlah engkau

Wahai emosi yang sering naik dan turun

Bangkitlah temui takdirmu

Yang menanti disana

Tersenyum manis

Merengkuhkan kedua tangannya

Manis

Meninggalkan pahit

Sebagai bagian perjalanan

Pergilah ke manis

Bangkitlah

Engkau jiwa yang lunglai dalam harap

Yang tiada kunjung tiba

Jemputlah takdirmu disana

Ia sedang diam tak henti menanti

Hadirmu dengan sebuah hadiah terindah

Bangkitlah

Tiada kenal lelah

Bangkitlah

Takdirmu tersenyum disana

Tidak bersembunyi dibalik awan

Alur Hidupku..

July 19th, 2006 by cobasajak

Jadikanlah aku cinta

Jadikanlah aku hidup

Jadikanlah aku harap yang pasti..

Aku hanyut dalam asa yang terhenti..

Aku lelah dalam pencarian

Aku berhenti berharap..

Aku berhenti bermimpi..

Mengapa harus ada..

Sebuah kekecewaan karena perbedaan..

Kenapa harus ada..

Suatu pengingkaran karena perbedaan..

Seandainya saja ada…

Mimpi yang hilang karena harus hilang…

Maka kecewa yang hadir adalah

sebuah kepastian yang melegakan…

Lalu ketika aku merintis jalan

yang lebih sederhana…

haruskah aku peduli dengan apa kata orang lain…

Sedangkan ini hidup dan jalanku..

Maka ketika aku liar

Biarlah aku menjadi liar…

Ketika aku mendobrak pranata-pranta..

biarlah aku luruh….

Aku ingin sesekali pembangkanganku terkspresi..

tidak hanya terpendam dalam hati

dalam dua pilihan baik di atas ketak baikan..

Aku luruh, lelah, kecewa..

Ada hati yang menyempit..

terpaku pada kebekuan.. kehampaan,…

Ingin kuteriak,.. ingin kulepas semua..

ingin kulepas bebas semuanya…

semua belenggu yang menyekat…

sudut-sudut ruang hati..

aku ingin lepas bebas dari semuanya…

aku ingin jernih lagi…

jernih lagi..

dari semua paradigma..

Kaca Diri

July 19th, 2006 by cobasajak

Aku mungkin menemukan mimpi dan kehilangannya…

bukan karena aku telah berusaha dan kemudian gagal memperolehnya..

namun adalah keengganan untuk mencoba meraihnya…

adalah kilas lalu yang menjadi kaca diri..

bahwa aku hanya seorang biasa yang tertakdir menjadi biasa dan bukan untuk mereka yang luar biasa..

maka adalah asa itu yang kemudian coba di kubur dan dipendam..

dihilangkan jauh-jauh..

mungkin nanti ternyata itu adalah pilihan terbaik untukku…

namun lepaskanlah….

mungkin pilihan yang hadir bukan yang terbaik itu..

namun tetapkanlah hatimu…

bahwa pilihan yang jatuh adalah yang paling baik untukmu, meski bukan yang terbaik..

maka teguhkanlah hati hati ini, dalam memilih dan menempuh jalan ini,..

berilah keteguhan, kekokohan, dan dedikasi dalam menjemput dan melaluinya..

Ketika ada ragu dan bimbang,..

yakinlah ini pilihan terbaik untukmu,.. jangan kau siakan mimpi itu…

mimpi mimpi terindah..

menempuh dan melalui jalan ini

Menjadi Luar Biasa

July 13th, 2006 by cobasajak

Aku, kembali perlu sehembus angin,..

Kali ini untuk memotivasiku…. agar tetap maju dan melangkah…

sedangkan.. aku sedang jatuh dan terpuruk…

aku sedang lelah,.. sedang hampa,.. aku lelah untuk melangkah tinggi..

naik terbang menuju cakrawala…

mengepak sayap-sayap terbang tinggi…

Dan aku sendiri terasingkan…, tersembunyi, terabaikan..

dari mimpi-mimpi, dari harap, dari kebersamaan…

AKu punya mimpi, dan nampaknya mimpi itu akan terkubur,..

aku enggan untuk mencoba kembali… ketika lembah begitu curam

untuk didaki,.. terlalu terjal untuk dinaiki..

Aku hanya sayap-sayap lemah,.. yang bermimpi menuju matahari.

Aku ingin menjemput mimpi itu,.. lalu merengkuhnya bersama,.. menjadi aku yang lebih baik…

Namun mungkin hanya cinderella yang berhak mendamba seorang pangeran…

Sedangkan tiada jelata yang berhak mendamba puteri kerajaan..

Quasimodo pada esmeralda.. atau romeo pada juliet.. yang tak pernah tercapaikan..

Menjadi orang biasa… bersama orang biasa… dan hanya menjadi biasa– entah apakah aku cukup mampu juga menjadi orang biasa..

AH mengapa aku menjadi pesimisme melalui hidup ini,.. ah mungkin karena serangkaian pengalaman.. yang membunuh mimpinya