Archive for July, 2006

Bilakah salah

Monday, July 31st, 2006

Apakah kemudian aku salah menempuh jalan.. ini..

memilihnya.. melalui dan meneguhkan hati pada pilihan ini…

Jika ini adalah sebuah jalan kebaikan yang dapat aku lakukan..

untuk membagi cinta.. dan saling memperbaiki diri..

Jika disini.. aku bisa merasa mempunyai arti..jadikanlah aku teguh memegang niatan ini..

Jika jalan yang harus ditempuh sperti ini.. .

temukanlah aku dengan hakikat.. sehingga tak ada perubahan niat..

Entah.. Aku mungkin sedang berada dipersimpangan…

dan tak tahu hendak kemana..

mimpiku mungkin bukan disana.. tapi disini…

bersama pilihan-pilihan…

adalah bukan idealisme ternyata… sebab ternyata aku juga bukan sosok yang idealis….

namun bagai pepatah lama.. ke roma tak hanya bisa ditempuh melalui satu cara…

Teguhkanlah, niatkanlah.. ini jalur hidupku,.. pilihanku..

jadikanlah semua ini bertautan.. menuju sebuah kebaikan..

Di dunia kita, bukan dunia mereka..

sebab dunia mereka terlalu tinggi,.. untuk digapai dan diraih…

yang begitu terpesona dengan atribut-atribut….

mesti sejatinya.. nurani mereka juga sangatlah tinggi…

namun hidup untuk berbagi.. kepada siapapun untuk siapapun…

seorang panglima tidak mesti menjadi yang terpandai,.. yang terpintar.. bermain pedang,.. yang termahir menunggang kuda…

sebab ia tidak memilih untuk dilahirkan menjadi seorang panglima.. atau hanya prajurit biasa…

Sajak Lama

Friday, July 21st, 2006

Kutemukan,.. diantara serakan… lembar-lembar

coretan tanpa makna..

ketika kaki sedang melangkah

Bangkitlah engkau

Wahai jiwa yang bersembunyi

Bangkitlah engkau

Wahai diri yang tersembunyi

Betapa selama ini langkah-langkahmu

Tak terarah

Tercerai berai..tanpa makna

Kadang lelah

Terpinggirkan bersama tenggelam mentari

Di senja kala

Kadang lunglai

Menjauh bersama sepoi angin yang meninggalkan daratan

Kadang diam

Bagai karang yang terhantam deburan gelombang

Tanpa bis menghindar dan berlari

Bangkitlah engkau

Wahai jiwa yang masih belum menemukan arah..

Bangkitlah engkau

Wahai emosi yang sering naik dan turun

Bangkitlah temui takdirmu

Yang menanti disana

Tersenyum manis

Merengkuhkan kedua tangannya

Manis

Meninggalkan pahit

Sebagai bagian perjalanan

Pergilah ke manis

Bangkitlah

Engkau jiwa yang lunglai dalam harap

Yang tiada kunjung tiba

Jemputlah takdirmu disana

Ia sedang diam tak henti menanti

Hadirmu dengan sebuah hadiah terindah

Bangkitlah

Tiada kenal lelah

Bangkitlah

Takdirmu tersenyum disana

Tidak bersembunyi dibalik awan

Alur Hidupku..

Wednesday, July 19th, 2006

Jadikanlah aku cinta

Jadikanlah aku hidup

Jadikanlah aku harap yang pasti..

Aku hanyut dalam asa yang terhenti..

Aku lelah dalam pencarian

Aku berhenti berharap..

Aku berhenti bermimpi..

Mengapa harus ada..

Sebuah kekecewaan karena perbedaan..

Kenapa harus ada..

Suatu pengingkaran karena perbedaan..

Seandainya saja ada…

Mimpi yang hilang karena harus hilang…

Maka kecewa yang hadir adalah

sebuah kepastian yang melegakan…

Lalu ketika aku merintis jalan

yang lebih sederhana…

haruskah aku peduli dengan apa kata orang lain…

Sedangkan ini hidup dan jalanku..

Maka ketika aku liar

Biarlah aku menjadi liar…

Ketika aku mendobrak pranata-pranta..

biarlah aku luruh….

Aku ingin sesekali pembangkanganku terkspresi..

tidak hanya terpendam dalam hati

dalam dua pilihan baik di atas ketak baikan..

Aku luruh, lelah, kecewa..

Ada hati yang menyempit..

terpaku pada kebekuan.. kehampaan,…

Ingin kuteriak,.. ingin kulepas semua..

ingin kulepas bebas semuanya…

semua belenggu yang menyekat…

sudut-sudut ruang hati..

aku ingin lepas bebas dari semuanya…

aku ingin jernih lagi…

jernih lagi..

dari semua paradigma..

Kaca Diri

Wednesday, July 19th, 2006

Aku mungkin menemukan mimpi dan kehilangannya…

bukan karena aku telah berusaha dan kemudian gagal memperolehnya..

namun adalah keengganan untuk mencoba meraihnya…

adalah kilas lalu yang menjadi kaca diri..

bahwa aku hanya seorang biasa yang tertakdir menjadi biasa dan bukan untuk mereka yang luar biasa..

maka adalah asa itu yang kemudian coba di kubur dan dipendam..

dihilangkan jauh-jauh..

mungkin nanti ternyata itu adalah pilihan terbaik untukku…

namun lepaskanlah….

mungkin pilihan yang hadir bukan yang terbaik itu..

namun tetapkanlah hatimu…

bahwa pilihan yang jatuh adalah yang paling baik untukmu, meski bukan yang terbaik..

maka teguhkanlah hati hati ini, dalam memilih dan menempuh jalan ini,..

berilah keteguhan, kekokohan, dan dedikasi dalam menjemput dan melaluinya..

Ketika ada ragu dan bimbang,..

yakinlah ini pilihan terbaik untukmu,.. jangan kau siakan mimpi itu…

mimpi mimpi terindah..

menempuh dan melalui jalan ini

Menjadi Luar Biasa

Thursday, July 13th, 2006

Aku, kembali perlu sehembus angin,..

Kali ini untuk memotivasiku…. agar tetap maju dan melangkah…

sedangkan.. aku sedang jatuh dan terpuruk…

aku sedang lelah,.. sedang hampa,.. aku lelah untuk melangkah tinggi..

naik terbang menuju cakrawala…

mengepak sayap-sayap terbang tinggi…

Dan aku sendiri terasingkan…, tersembunyi, terabaikan..

dari mimpi-mimpi, dari harap, dari kebersamaan…

AKu punya mimpi, dan nampaknya mimpi itu akan terkubur,..

aku enggan untuk mencoba kembali… ketika lembah begitu curam

untuk didaki,.. terlalu terjal untuk dinaiki..

Aku hanya sayap-sayap lemah,.. yang bermimpi menuju matahari.

Aku ingin menjemput mimpi itu,.. lalu merengkuhnya bersama,.. menjadi aku yang lebih baik…

Namun mungkin hanya cinderella yang berhak mendamba seorang pangeran…

Sedangkan tiada jelata yang berhak mendamba puteri kerajaan..

Quasimodo pada esmeralda.. atau romeo pada juliet.. yang tak pernah tercapaikan..

Menjadi orang biasa… bersama orang biasa… dan hanya menjadi biasa– entah apakah aku cukup mampu juga menjadi orang biasa..

AH mengapa aku menjadi pesimisme melalui hidup ini,.. ah mungkin karena serangkaian pengalaman.. yang membunuh mimpinya

Fase

Tuesday, July 4th, 2006

Satu fase dalam hidupku sedang kujalani,.. masih - masih seperti yang dulu, hidup dalam pesimistis, rasa ragu, bahwa aku tidak bisa apa-apa, bahwa aku tidak faham seperti mereka-mereka, bahwa aku tidak bisa berbuat banyak seperti mereka, bahwa aku tidak bisa segala-galanya.  Dan kemudian jadilah aku seperti gajah yang terikat rantai besi, yang terbelenggu sekian lama, betapapun ia mencoba ia tak pernah bisa lepas be dan ketika rantainya tergantikan oleh hanya seutas tali (mungkin) ia sudah lepas harapnya untuk lepas bebas, untuk menggapai mimpi-mimpinya, bahwa mungkin hanya ini jalanku bersama orang-orang biasa, hanya menjadi orang biasa tidak pernah akan mampu menembus langit-langit utopis.

Bahwa kemudian aku bertemu dengan rekan-rekan yang punya valensi yang begitu melimpah, harap itu kemudian hadir timbul tenggelam kembali, apakah aku bisa, apakah tidak , mungkin bisa, mungkin tidak.  Dan ketika kami mempunyai sebuah mimpi yang sama, asa yang sama, asa itu hadir tenggelam.   Bersama orang orang yang visioner, super kreatif, idealis dan cemerlang, humoris, penuh canda, pekerja-keras, namun terkadang ada pesimistis, ada ragu, ada penyemangat, ada motivator, ada pemimpin yang down to earth.  Ah ternyata perbedaan-perbedaan itu bisa mensinergi, saling menyatu dan menguatkan.  Aku fikir segala sesuatu itu sama, mesti sefaham, satu ide, satu fikiran.  Ah ternyata bila semuanya sama mungkin perjalanannnya akan datar-datar saja, tanpa riak, tanpa gelombang yang menguatkan.  Jadi mengapa mesti sama, sedangkan berbeda itu indah saling melengkapi satu dan lainnya.

Terimakasih rekan-rekanku, mari kita kerapkan langkah, dalam mimpi besar membangun peradaban baru, turut berperan serta, menjadi sebuah titik kecil dalam garis panjang perjuangan.  Terimakasih rekanku menjadikan aku mulai kembali berani menatap mimpi dari satu sudut pandang.

Will be Magnificient Eleven