Anak Tangga Ke 10

Pertemuannya terjadi begitu saja, mungkin sebuah kebetulan yang tidak direncanakan, jalur hidup yang mengarahkan kami masing-masing ke jalan itu, dan dari sanalah semuanya berawal.  Adalah sebuah masa dimana langkah sedang mencari arah, ketika gundah masih selalu hadir.  Akan kemana kaki dilangkahkan, tentang pencarian tujuan hidup, tentang menjalin sebuah mimpi, tentang menuntaskan sebuah asa, dan ketika semuanya sedang gamang, ketika saat-saat lelah tiba, ketika hati mencari sebuah tempat untuk bisa berbagi melepas semua penat, dan kemudian saat-saat itu hadir begitu saja.

Sedang ‘bermain-main’ diujung penantian sebuah penelitian, ketika masa-masa menyelesaikan studi akan segera tiba, ketika hati sedang hampa entah kenapa, ketika ada ruang yang kosong karena ada asa yang hilang, ketika serangkai penat datang bergantian, sebuah sapa hadir.  Entah dalam bentuk bagaimana, tak dapat lagi kudeskripsikan awal mulanya. 

Hanya karena intensitas kehadiran saja mungkin, ketika masing-masing akan dan hendak menyelesaikan kepentingannya masing-masing.  Awalnya hanya papas sapa saja, seperti halnya dengan rekan kerja yang lain, setidaknya saling mengenal wajah, rupa dan suara.

            Waktu beranjak tidak cepat,.. perlahan saja,.. ketika disuatu masa kami bertiga sedang menanti hadir seseorang yang sama, walau atas nama kepentingan yang berbeda, siang kala itu menjelang Dzuhur, dan mulailah sebuah perbincangan dimulai.  Padahal saat itu aku masih dan sedang enggan menyemai harap, karena ada sebuah kecewa yang sempat hadir, namun ‘ketakutan’ yang tersembunyi disanubariku, ketika mata menatap dalam-dalam ke lintas bayang di meja kaca, ada angin yang berhembus sejuk, menggugah angan-angan menerbangkan semai-semai harap dan menaburkannya diladang hati yang sedang luka. 

Ah aku sedang enggan.

Suatu ketika sayup-sayup kudengar ia sedang mendeskripsikan makna diruang sebelah, terdengar seperti nyanyian ranting-ranting mawar yang gemerisik terhembus angin.  Suatu ketika kami sudah mulai berani bercakap canda, dan saling mengenal, keramahan, keceriaan, dan ada sebuah pesona yang tak dapat kudeskripsikan, maka alur itu kemudian telah terpilih untuk jadi sebuah cerita dalam jejak langkah perjalananku.

            Keakraban itu kemudian menjadi sebuah persahabatan, yang menjadikan kami lebih saling mengenal, saling berbagi cerita, tentang masa-masa kuliah, tentang nilai, tentang tugas-tugas, tentang penelitian dan tentang hidup.  Maka kemudian ada cerita tentang bintang-bintang yang begitu indah nampak terlihat dari beranda rumah, kemudian ada sisi melo yang hadir ketika ada sembab yang menyembunyikan bening-bening mutiara ketika membaca renungan tentang seorang Bunda, kemudian ada unik yang hadir dari segelas kopi yang terkondensasi disebelah AC, dan kemudian ada manja yang mengkristal menjadi pewarna dalam interaksi-interaksi yang terjadi.

Dan kemanjaan itu mungkinlah yang menjadi pengikat, ketika semai-semai mulai menghadirkan harap.  Ada hati yang sedang berbunga, namun ia enggan hadir kepermukaan, sebab ada risau dan galau tentang semua yang terjadi, perjalanan, interaksi, persahabatan, ketika berbagi rasa, ketika mengemas canda dengan rupa dan kata. 

            Namun aku bahagia, ketika aku merasa aku begitu berarti bagi seseorang, ketika ada ingin yang terucap, ada harap yang diminta, ada hal-hal yang terwujudkan dalam merangkai mimpinya.  Dan ketika semuanya tulus, atas nama persaudaraan maka aku menjadi bahagia ketika keberadaanku menjadi berarti untuk seseorang.  Dan ketika kemudian aku menyimpulkan tiap-tiap nya menjadi sebuah harap, ternyata itu hanyalah sebuah bias asa sesaat saja.  Kemudian hari-hari yang terlalui menghadirkan sebuah semangat bagiku, bahwa ada indah dalam hidup, maka ketika menyertainya menyelesaikan tugas-tugasnya, menyertainya merancang jalur mimpinya, menyertai dia mengekspresikan kelembutan nalurinya, adalah sebuah hadiah terindah bagi diriku.  Dan ketika ia menyelesaikan semuanya dan siap terbang meninggalkan taman-taman ini aku tersenyum dan berkata aku turut bahagia.

            Ada yang hilang memang kemudian, sesuatu yang aku takut dulu ketika enggan menyemai bias-bias harap, aku takut kehilangan.  Maka sebuah keberanain yang terucap kemudian adalah sebuah bentuk lain pembunuhan egoku, agar aku dapat membuangnya jauh-jauh, walaupun aku tahu dan sadari semuanya tidak akan sesuai yang diharapkan, aku kesampingkan intuisiku, biarlah semuanya seperti itu.  Dan kemudian memang ada yang hilang sesaat, sesuatu yang tak akan pernah bisa kembali, dan akupun tak bisa beranjak pergi.

Dan pertemuan terakhir kita sebelum itu, disebuah tempat, yang kemudian saat ini menjadi tempat favoritku untuk merenung, ketika aku ingin sendiri, ketika sedang ada gundah, ketika sedang lelah hadir ke tempat itu, duduk dianak tangga yang ke-10, anak tangga dimana terakhir kita bercanda dan berbicara, tentang masa depan, tentang mimpi, tentang hidup, tentang wisuda yang telah lalu, tentang keajaiban-keajaiban yang terjadi.  Dari anak tangga ke 10 itu, pelataran plaza disebelah kanan, terlihat lepas lapang, pohon-pohon yang rindang serta lapangan rumput yang luas, lalu diseberangnya lalu lalang kendaraan nampak beriringan, hanya terhalang pagar saja, dan gedung megah dibelakangnya, tempat kita terakhir bermetamorfosa, melepaskan retakan kepompong terakhir untuk terbang bebas menjadi kupu-kupu indah.

            Sekarang kita telah terbang masing-masing, menemui jalan kita sendiri, mencoba menggapai indah, terimakasih sahabat untuk semuanya, hadirmu telah mempunyai arti tersendiri dalam alur hidupku, yang tengah dan masih mencari.  Bahagia, yang terbagi, mimpi yang terbagi, luka yang tersembunyi dan duka yang tersembunyi.  Adalah sebuah makna telah hadir, yang akan terukir dalam salah satu sudut prasasti hatiku, sebagai seseorang yang telah menyentuh ruang hatiku.

Dan bila suatu saat kau menemukanku sedang merenung di anak tangga ke 10 itu, mungkin aku sedang mengingat kembali jejak langkah, atau sedang mengkreasi langkah-langkah ke depan agar menjadi lebih baik.

Leave a Reply