Archive for June, 2006

Anak Tangga Ke 10

Sunday, June 25th, 2006

Pertemuannya terjadi begitu saja, mungkin sebuah kebetulan yang tidak direncanakan, jalur hidup yang mengarahkan kami masing-masing ke jalan itu, dan dari sanalah semuanya berawal.  Adalah sebuah masa dimana langkah sedang mencari arah, ketika gundah masih selalu hadir.  Akan kemana kaki dilangkahkan, tentang pencarian tujuan hidup, tentang menjalin sebuah mimpi, tentang menuntaskan sebuah asa, dan ketika semuanya sedang gamang, ketika saat-saat lelah tiba, ketika hati mencari sebuah tempat untuk bisa berbagi melepas semua penat, dan kemudian saat-saat itu hadir begitu saja.

Sedang ‘bermain-main’ diujung penantian sebuah penelitian, ketika masa-masa menyelesaikan studi akan segera tiba, ketika hati sedang hampa entah kenapa, ketika ada ruang yang kosong karena ada asa yang hilang, ketika serangkai penat datang bergantian, sebuah sapa hadir.  Entah dalam bentuk bagaimana, tak dapat lagi kudeskripsikan awal mulanya. 

Hanya karena intensitas kehadiran saja mungkin, ketika masing-masing akan dan hendak menyelesaikan kepentingannya masing-masing.  Awalnya hanya papas sapa saja, seperti halnya dengan rekan kerja yang lain, setidaknya saling mengenal wajah, rupa dan suara.

            Waktu beranjak tidak cepat,.. perlahan saja,.. ketika disuatu masa kami bertiga sedang menanti hadir seseorang yang sama, walau atas nama kepentingan yang berbeda, siang kala itu menjelang Dzuhur, dan mulailah sebuah perbincangan dimulai.  Padahal saat itu aku masih dan sedang enggan menyemai harap, karena ada sebuah kecewa yang sempat hadir, namun ‘ketakutan’ yang tersembunyi disanubariku, ketika mata menatap dalam-dalam ke lintas bayang di meja kaca, ada angin yang berhembus sejuk, menggugah angan-angan menerbangkan semai-semai harap dan menaburkannya diladang hati yang sedang luka. 

Ah aku sedang enggan.

Suatu ketika sayup-sayup kudengar ia sedang mendeskripsikan makna diruang sebelah, terdengar seperti nyanyian ranting-ranting mawar yang gemerisik terhembus angin.  Suatu ketika kami sudah mulai berani bercakap canda, dan saling mengenal, keramahan, keceriaan, dan ada sebuah pesona yang tak dapat kudeskripsikan, maka alur itu kemudian telah terpilih untuk jadi sebuah cerita dalam jejak langkah perjalananku.

            Keakraban itu kemudian menjadi sebuah persahabatan, yang menjadikan kami lebih saling mengenal, saling berbagi cerita, tentang masa-masa kuliah, tentang nilai, tentang tugas-tugas, tentang penelitian dan tentang hidup.  Maka kemudian ada cerita tentang bintang-bintang yang begitu indah nampak terlihat dari beranda rumah, kemudian ada sisi melo yang hadir ketika ada sembab yang menyembunyikan bening-bening mutiara ketika membaca renungan tentang seorang Bunda, kemudian ada unik yang hadir dari segelas kopi yang terkondensasi disebelah AC, dan kemudian ada manja yang mengkristal menjadi pewarna dalam interaksi-interaksi yang terjadi.

Dan kemanjaan itu mungkinlah yang menjadi pengikat, ketika semai-semai mulai menghadirkan harap.  Ada hati yang sedang berbunga, namun ia enggan hadir kepermukaan, sebab ada risau dan galau tentang semua yang terjadi, perjalanan, interaksi, persahabatan, ketika berbagi rasa, ketika mengemas canda dengan rupa dan kata. 

            Namun aku bahagia, ketika aku merasa aku begitu berarti bagi seseorang, ketika ada ingin yang terucap, ada harap yang diminta, ada hal-hal yang terwujudkan dalam merangkai mimpinya.  Dan ketika semuanya tulus, atas nama persaudaraan maka aku menjadi bahagia ketika keberadaanku menjadi berarti untuk seseorang.  Dan ketika kemudian aku menyimpulkan tiap-tiap nya menjadi sebuah harap, ternyata itu hanyalah sebuah bias asa sesaat saja.  Kemudian hari-hari yang terlalui menghadirkan sebuah semangat bagiku, bahwa ada indah dalam hidup, maka ketika menyertainya menyelesaikan tugas-tugasnya, menyertainya merancang jalur mimpinya, menyertai dia mengekspresikan kelembutan nalurinya, adalah sebuah hadiah terindah bagi diriku.  Dan ketika ia menyelesaikan semuanya dan siap terbang meninggalkan taman-taman ini aku tersenyum dan berkata aku turut bahagia.

            Ada yang hilang memang kemudian, sesuatu yang aku takut dulu ketika enggan menyemai bias-bias harap, aku takut kehilangan.  Maka sebuah keberanain yang terucap kemudian adalah sebuah bentuk lain pembunuhan egoku, agar aku dapat membuangnya jauh-jauh, walaupun aku tahu dan sadari semuanya tidak akan sesuai yang diharapkan, aku kesampingkan intuisiku, biarlah semuanya seperti itu.  Dan kemudian memang ada yang hilang sesaat, sesuatu yang tak akan pernah bisa kembali, dan akupun tak bisa beranjak pergi.

Dan pertemuan terakhir kita sebelum itu, disebuah tempat, yang kemudian saat ini menjadi tempat favoritku untuk merenung, ketika aku ingin sendiri, ketika sedang ada gundah, ketika sedang lelah hadir ke tempat itu, duduk dianak tangga yang ke-10, anak tangga dimana terakhir kita bercanda dan berbicara, tentang masa depan, tentang mimpi, tentang hidup, tentang wisuda yang telah lalu, tentang keajaiban-keajaiban yang terjadi.  Dari anak tangga ke 10 itu, pelataran plaza disebelah kanan, terlihat lepas lapang, pohon-pohon yang rindang serta lapangan rumput yang luas, lalu diseberangnya lalu lalang kendaraan nampak beriringan, hanya terhalang pagar saja, dan gedung megah dibelakangnya, tempat kita terakhir bermetamorfosa, melepaskan retakan kepompong terakhir untuk terbang bebas menjadi kupu-kupu indah.

            Sekarang kita telah terbang masing-masing, menemui jalan kita sendiri, mencoba menggapai indah, terimakasih sahabat untuk semuanya, hadirmu telah mempunyai arti tersendiri dalam alur hidupku, yang tengah dan masih mencari.  Bahagia, yang terbagi, mimpi yang terbagi, luka yang tersembunyi dan duka yang tersembunyi.  Adalah sebuah makna telah hadir, yang akan terukir dalam salah satu sudut prasasti hatiku, sebagai seseorang yang telah menyentuh ruang hatiku.

Dan bila suatu saat kau menemukanku sedang merenung di anak tangga ke 10 itu, mungkin aku sedang mengingat kembali jejak langkah, atau sedang mengkreasi langkah-langkah ke depan agar menjadi lebih baik.

Pengembaraan Maya

Wednesday, June 21st, 2006

Ingin kemudian kurangkai kata
Namun tinta penaku t’lah luruh mengering bersama
duka
Ingin kulukiskan berjuta indah kejora
Namun kanvasku telah luruh lebur dalam air mata
maya

Lelah sudah aku mencari, menatih dan tertatih
dalam jejak-jejak langkah.
Mengayuh sebuah biduk rapuh, dalam
pengembaraan sunyi…
Sebuah sepi yang tidak pernah henti…

Aku hanya ingin sebuah kata saja… yang terlontar
di suatu saat…
Namun bila kemudian kelu yang hadir, diam seribu
bahasa,.. dalam sekian masa…
Sesungguhnya yang terjadi adalah aku sedang
membunuh rasa…
Yang ingin kutenggelamkan jauh-jauh…
Dan kukuburkan di lapisan volcano terdalam…
Maka kelu itu adalah sebuah pertempuran yang
tidak pernah dapat aku menangkan…

Dan bila kemudian suatu saat akhirnya ada kata
terucap…
Bukan sebuah pemuasan atas ingin yang begitu
menggejolak…
Sebab itu adalah wujud lain dari pembunuhan ego…
Yang mencoba bersembunyi dalam pendaman hati
yang dalam…
Namun terkadang meluap diam-diam…
Entah dalam bentuk expresi apa..

Adakah sebuah bodoh…
Dalam pencarian jalan, merekatkan sebongkah
asa .. dilautan badai..
Aku menaruh awamku begitu saja…
Dalam lautan asa yang debur gelombangnya
begitu menggelora…
Buih-buih pesonanya yang timbul tenggelam..
terhempas…
Dan memagnet dahsyat… Menggiringku ke
sebuah pusaran..
Atas nama Cinta.

Aku ingin mencintai-Mu sepenuhnya…
Sedalam hati yang tak pernah terselami…
Atau setinggi ego.. yang tak pernah terukur selalu
meninggi…

Sejak aku mengenal rasa cinta itu yang harus
hadir…
Dalam setiap detik perjalanan hidup,.. perpaduan
emosi dan realiti..
Ketika setiap hal yang dilakukan harus karena
cinta kepada-Nya..
Tertuju kepada-Nya..

Ah namun kemudian aku masih bodoh memakna-i
Cinta…
Aku hanya sebutir debu nebula yang bermimpi
menggapai kejora..
Namun adakah diriku salah.. ketika aku
mendamba sangat…
Untuk dapat berdekatan selalu,.. mendekap
hangat dan berbincang dekat..
Menghiasi malam-malam berduaan saja…
Menghabiskan Sisa malah menjelang subuh tiba..
Bercengkrama.. Menaruh sebuah
harapan…Memohonkan asa..

Cinta ku Untukmu Teman

Wednesday, June 21st, 2006

Sebagian merasa hidup ini tidak akan pernah mencapai maknanya tanpa kehadiran seorangpun teman. Teman adalah orang-orang yang dicintainya dan yang mencintainya pula
Orang-orang yang dengan keluasan hati menerima dirinya apa adanya, tanpa bumbu dan banyak cela.

Menyayangi teman, sama sekali bukan berarti menafikan kecintaan kepada yang lain
Kecintaan kepada keluarga, kepada diri sendiri, sebab tiap-tiap jendela cinta memiliki ruangan tersendiri di hati yang tidak akan mampu disamakan dengan cinta-cinta lain
Yang kesemuanya tidak saling berhimpit tidak pula bersinggungan. Namun tiap-tiap kecintaan mengisi bilik-bilik hati yang berbeda-beda. Kesemua cinta hendaknya merupakan suatu refleksi cinta kepada Allah SWT. Suatu pendaran keemasan dari keimanan, desiran sejuk angin kerinduan, dan deburan tegar ombak keistiqomahan.

Teman, bagiku kata itu adalah ungkapan kerinduan dan sejuta harapan. Harapan untuk dapat saling menegur dan meneguhkan. Membuang jauh-jauh kata perbedaan dan mencoba untuk mengawali segalanya dari kesamaan. Pada kata itu kutemukan hakikat hidup dan kehidupan, karena bersamanya aku menahan derita dan sengsara, gundah dan gulana, namun begitu manis terasa segala kerutan layar perjuangan karena Allah lah yang telah membuatnya.

Teman, bertemankan jiwa-jiwa yang ber-izzah mulia dan ghiroh menggelora, dengan segidang ide dan idealisme yang Robbani. Meniti jembatan yang sama, dengan tekad yang serupa dan seragam kebesaran jiwa. Bukan untuk sekedar menghabiskan sisa minuman kehidupan dunia, tapi hidup untuk sebuah cita yang takkan pernah kandas sia-sia. Pantas saja jika Rosululloh mewasiatkan agar kita menjadikan mereka yang sholeh sebagai teman kepercayaan.

Ah teman, harus kita terima bahwa berteman bukan berarti untuk selalu bersama secara harfiah
Suatu saat pasti kita akan terpisah pula. Menempati lini-lini berbeda di setiap sudut kehidupan, agar setiap insane dapat tersentuh cahayaNya

Teringat serangkaian syair milik Munsyid Saujana ini kusuntingkan untukmu :
Sedingin embunan dedaun kehijauan, sesegar ingatan kenangan kisah silam
Kita seiring bersatu dan berjuang, meniti titian persahabatan
Kau hadir bawa cahaya, terangi hatiku teman
Saling memerlukan dan mengharapkan
Tangis gembira saat bahagia, moga kan kekal menuju Syurga
Kerana Tuhan kita ditemukan, andai terpisah, itu ketentuan
Sengketa dan kesilapan itulah fitrahnya insan
Kata dan teguran itulah pedoman

Taken From Janeet Blog

Mutiara Yang Hilang

Wednesday, June 21st, 2006

Tangkaplah kelim (tepi) karunia-Nya,

karena Dia akan mendadak lari!

Tapi jangan hunus Dia seperti anak panah,

karena dari busur Dia akan meluncur.

Lihat ~ bagaimana rupa-Nya, dan

bagaimana jurus yang dimainkan-Nya!

Kiranya dia hadir dalam bentuk

namun Dia akan lari dari jiwa.

Kau cari Dia jauh tinggi di langit-Nya ~

Dia bercahaya bak rembulan di dana,

Namun jika kau menyelam ke dalam airnya,

Dia akan meluncur jauh tinggi ke langit.

Kau cari Dia di Tak-Bertempat

Dia berikan tanda-tanda tempat-Nya:

Namun jika kau cari Dia di tempat,

Dia akan terbang ke Tak-Bertempat.

Seperti anak panah meluncur dari tali busurnya

dan seperti burung pikiranmu…

Kau pasti tahu: dari yang ragu

Yang Maha mutlak akan lari.

"Aku akan lari dari yang ini dan yang itu,

namun bukan karena lelah:

Aku takut keindahan-Ku, yang amat indah,

akan lari dari ini dan dari itu.

Karena Aku terbang bak angin,

dan Aku cinta bunga mawar, seperti desiran,

Tapi karena takut akan musim rontok,

bunga mawar juga akan lari, bukan!"

Nama-Nya akan lari

ketika tahu kau bermaksud mengucapkannya

Sehingga tak bisa kau katakan kepada orang lain:

“Lihatlah kesini, orang seperti itu akan lari!”

Dia akan lari darimu jika kau coba mensketsakan

Bagaimana rupa dan bentuk-Nya—

Goresan akan lari dari loh,

tanda akan lari dari hati!

(Rumi,Mutiara Yang Hilang)

Angan yang tersederhanakan,…–

Mimpi-mimpi jadi berbatas,…–

Dan sayap-sayap semakin

melemah,

tak lagi mengangkasa tinggi

Semuanya kemudian menjadi nyata,…–

Bias samarnya menghilang,…–

Semua Zahirnya bermunculan

hadir,

hilang, pergi dan senyap

Aku Masih terpesona dalam asa,…–

Ketika semuanya menjadi tiada,…–

Angan yang perlahan sirna

mimpi,

yang beranjak terpaksa pergi

Dan Semuanya menghilang

dalam tabir gelap malam

musnah

Memintal Harap

Monday, June 19th, 2006

Apakah aku akan berani,.. kembali menyusuri, melalui dan memilih jalan ini..

Sedangkan aku, masih dan akan tetap menjadi orang yang sama,…

Kemanakah akan kutitipkan sebuah harap,… ketika aku berusaha pergi,..

menghilang dan menghindar jauh-jauh..

mimpi itu selalu kembali…

Sedangkan aku masih akan tetap sama,.. dan kembali sama.. dari satu sisi sudut pandang..

Mencoba Memiliki dan memahami,.. tidak selalu harus menjadi bagian daripadanya.. ataukah sebuah keharusan…

Sedangkan… esensinya tersembunyi entah dimana…

Akankah,.. aku berani untuk kembali… atau kali ini benar-benar harus beranjak pergi…

Tulisan Setahun Kemarin

Friday, June 16th, 2006

Seorang diri melangkah lunglai beranjak pulang dari kampusnya, menjelang senja melalui danau surut, menanjak ke kebun karet, ditengah temaram ada lelah dalam raut mukanya.  Singgah sejenak di Mushala lantai 3 Rektorat menjelang magrib memandang siluet senja ke arah plaza, dan kemudian hening yang menyeruak dalam gemericik air yang terpercik di sela wudhunya, membasuh tirus mukanya, dan kemudian ia tenggelam dalam sepotong asa mencari kekhusuan menghadap Rabbnya.
Beranjak enam bulan sudah, dan ia masih disini, menetapkan hati di kampus birunya, belum bergerak maju, masih menggapai asa dari riuh gelap lembah perjalannya, masih menanti angin yang sejuk untuk mengangkat sayap-sayapnya yang begitu penuh asa untuk segera terbang tinggi.

Enam bulan sudah sejak kelulusannya, ia masih terpaku dalam jalur hidupnya, dia hentikan langkahnya sejenak setelah turun dari tangga, di pandangnya Gunung Salak yang bersembunyi di balik kelabu awan, rumput hijau di seberang taman sana yang masih basah terpercik hujan sesaat lalu, kemudian ia kembali melangkahkan kakinya.  Ia tidak tahu harus berbuat apa, tertatih mencari jalan dalam merajut hidupnya, dan sungguh ia tidak memiliki apa-apa, sebait pengetahuan kah, segenggam dana kah, sebuah huluran tangankah, entah dia hanya punya sedikit asa, yang harapnya tercerai berai entah kemana.  Hanya sebuah "beban" silamnya yang belum terselesaikan membuat ia harus terus bertahan di sini, di Dingin Bogor, yang sebenarnya mulai memunculkan sebuah tanya dalam ruang benaknya "adakah disini masih bersahabat dengan saya..?".

Sampai langkah kakinya di pelataran Graha Widya Wisuda, Alhamdulillah sekarang sudah megah kembali dengan wajah barunya, selalu ada perbaikan setelah mengalami kerusakan, bahkan tanpa sebuah kerusakan pun mesti selalu ada upaya untuk selalu melakukan perbaikan.  Dia hentikan langkahnya, matanya menerawang senja ke arah barat dan lalu lalang Kendaraan di sana memasung asanya "Sudah adakah perubahan dalam langkah-langkahnya..?"

Enam bulan sudah, dan ia belum memperoleh suatu pekerjaan yang semestinya, tidak sebuah langkah kecilpun yang pasti menghadirkan sepeser Perak untuk mengisi uang sakunya.  Dan bukan salah siapa-siapa, Adakah sudah dimaksimalkan usahanya, memang tidak ada sebuah maksimal disana, dan kenapa tidak ada maksimaliasi untuk itu, biar saja hanya "saya yang tahu jawabnya" fikirnya.
Adakah dia seorang yang terlalu pemilih, entah.  Tentang sebuah pekerjaan saja, apa-apa saja itu, ketika masih dalam koridor kebaikan, "aku hanya perlu sehembus angin sehingga aku mampu menggapainya, bukan sebuah keputus asaan, dan apa hak mu berputus asa ketika satu dua usahapun jarang kau genapkan."  Ada sebuah ruang yang Insyaalloh telah tersediakan, namun aku tidak tahu dimanakah ruang itu, dari mana datangnya, bagaimana aku mendapatinya, dan dengan apakah aku dapat merengkuhnya.

Enam bulan sudah, mungkin aku harus dan akan segera beranjak dari sini, ketika "beban" silamku itu sudah terselesaikan.  Aku berharap itu akan segera selesai, namun ruang fikir yang terbagi, tentang masa depan yang tiada pasti, tentang ketidak tentuan proporsinya, membuat hal yang ‘relatif’ mudah itu terbengkalai sekian lama.  Dan ada begitu banyak perubahan, permintaan yang muncul, dan andai saja langkah hidupku saat ini sudah dalam alur pasti, tentunya optimalisasi kerjaku untuk itu akan sangat menggebu, akan ada loyalitas yang bersegera, Namun ruang logikaku sedang terbagi sehingga terkadang semangatnya kadang hadir kadang tiada.

Bilakah selepas April ini semuanya akan berakhir, dan mungkin aku akan berlepas diri dari Bogor ini, ia sampai di pertigaan Tembok Berlin ketika fikir itu menyeruak muncul di benaknya.  Lalu setelah ini apa, kembali ke tempat Bunda, adalah pilihan terbaik walaupun aku sadari itu adalah sebuah langkah mundur, dan aku akan hadir disana tanpa membawa apa-apa setelah sekian lama, aku khawatir membuatnya kecewa, lalu aku harus bagaimana.

Sampai di Hujung Balio sana dalam gerah lelahnya, dan di depan pintu ada sebait senyum dari sahabat-sahabatnya, dan segera dibalasnya untuk meniadakan cercah-cercah bimbang dalam relung kalbunya, dan ada seuntai senyum lain disana, oh ada sahabat yang datang jauh-jauh kesini.

tertawa renyah penuh tanya.. "Dari mana Baru pulang..?".

Malam beranjak larut, meninggalkan senja yang enggan digamit turut serta, aku tidak sempat memandang langit sehingga tidak tahu apakah rembulan sedang purnama, ditemani bintang-bintang, atau hanya gulita disana, yang ada dalam hari-hari ku adalah sebuah harap, naik turun nya motivasi, dan setiap harinya memunculkan kelemahan diri yang semakin nyata.

Satu bulan menjelang usia ini akan menapakan jejaknya di angka 25, sudah sebegitu lamakah aku mengarungi usia, beranjak cepat dari usia 17, lalu apakah yang sudah aku gapai dalam perjalananku.  Jika mau jujur belum apa-apa, dan aku bahkan memberikan ironi pada diri ini, kau belum memperoleh apa-apa.  Adakah segala sesuatnya menjadi terlambat.  Diri ini yang lalai dan terlenakah, perjumpaan akan hakikat yang baru sekian tahun menyapanya, dan akselerasi diri yang lambat, serta tumpul fikir yang menghambat.

Pagi, datang menyapa di keesokan harinya, Sinar mentari menyeruak menggradasikan violet di antara Tirai jendelanya, awan-awan putih berjejeran di biru sana.  Segelas teh pahit menemaninnya membuka pagi, disertai gemuruh Merah Saganya Shoutul Harokah, tercenung sesaat di hadapan 14  Inch Dell Compaq nya, matanya masih menyisakan kantuk, bersegera ia membasuhnya dalam guyuran dingin air sekitar 15 menit, ditengok ke seberang barat jendelanya, ah seorang sahabatnya nampak berjalan kearah selatan, wajahnya cerah seperti biasanya, sumringah dalam senyumnya, dan ia sedang bersegera untuk menyelesaikan tugas akhirnya.  Bersegeralah kawan, sehingga potensimu akan lebih bergema.

Diusianya menjelang dua lima, kawan-kawan mulai sering menggodanya. "Kapan nikah.." upss.., E-mail e-mail yang berdatangan di kotak suratnya juga tak jauh-jauh dari itu…tentang virus merah jambu, tentang lelaki idaman, tentang provokasi, tentang jatuh cinta, dan artikel-artikel yang menarik dan menawan, tutur katanya, bahasanya, dan tentu saja isinya.
Dan menikah, kosakata itu mulai dan sempat hadir di saat usianya menjelang dua tiga, dan kemudian kini muncul kembali. Dia masih ragu dan takut untuk memulainya kembali.

Asa itu memang begitu menawan, mengoda hatinya untuk menggenapkan separuh agamanya, namun kemudian dikuburnya dahulu itu jauh-jauh, ia masih takut untuk menjenguk sebuah ruang itu, ada misteri tersembunyi, ada banyak hal yang belum difahaminya, ada ruang pemahaman yang terbatas di dalam dirinya. Ia takut untuk memulai kembali mendefinisi makna cinta.  Apa sih yang difahaminya, tentang sebuah kata yang begitu luas maknanya, ia khawatir jika semuanya kemudian hanya semu, dan hanya hasrat yang menyeretnya.  Mimpinya, harapnya, asanya tentang membangun mahligai kokoh terkebumikan dahulu entah disudut mana.  Adalah sebuah pesimistis yang menggalinya, dan ia membiarkannya begitu saja.

Dirinya pernah mengharap sebuah kejora yang bersinar terang salahkah itu, sedang ia hanya sebuah debu dari nebula yang tertinggal jauh.  Oh iya dia hanya seorang ikhwan biasa, ikhwan dalam artian sebenarnya, yah, hanya seorang lelaki biasa, bukan seperti mereka yang mampu melesat bergerak cepat di medan dakwah, bukan seperti mereka yang punya beragam anak panah untuk tetap melesat maju di ladang-ladang  dakwah yang ditemuinya.  Ia bersyukur ketika ia ada dipersimpangan jalan, gerak langkah mereka telah memikatnya.  Indah tutur bicaranya, baik akhlaknya, luas wawasannya, dan bisa bersama mereka menjadi langkah indah yang pernah ia lalui, menyusun maniknya  Meski disana dia tidak bisa melakukan percepatan seperti mereka, ya,.. tidak bisa mobile seperti mereka karena dia hanya seorang biasa, sebutir debu yang berharap bisa bersama-sama membangun sebuah titik dalam garis panjang perjuangan, dan dalam perjalanan itu Ikhwannya, akhowatnya semua punya pesona dalam meretas jalan dakwah di lingkup kampus ini.

Hari beranjak siang, ia masih berdiam di depan 14 Inch Dell Compaq nya, tentang kemudian dia menemukan sebuah kejora indah adalah sesuatu yang lumrah fikirnya.  Pribadi-pribadi yang terbentuk disana Insyaalloh akan menjadi pribadi tangguh, apalagi bila sudah mempunyai fondasi yang kokoh sejak dulunya.  Kejora itu bukan seseorang yang kemudian aku harap karena kemudian aku teringat "Bahwa seseorang lelaki yang baik untuk wanita yang baik, dan wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik pula".  Namun kejora itu adalah kemudian menjadi sesosok figure ideal tentang seorang yang akan menjadi belahan jiwanya".  Karena dia tidak atau mungkin belum terlalu mengenal figur-figur bidadari ideal yang ada di jaman Rasulullah, mungkin ini pendekatan yang paling mudah difahaminya.  Ia tidak menggembalakan rasanya itu seperti yang dilakukan Abu Thahlah terhadap Al-Khansa, sebab ia tidak merasa layak untuk itu.

Kemudian dia bertanya bolehkah dia berharap atas seseorang yang lebih baik dari dirinya, seorang mujahidah tangguh yang akan menjadi pendidik keturunan generasi masa depannya, yang akan melahirkan jundi-jundi kecil yang siap menjadi prajurit-prajurit-Nya. Namun ia bukan siapa-siapa.
Memurnikan sebuah makna yang belum difahaminya, berjalan kemudian dia selepas Dzuhur, mencari sebuah kepastian, dan langkah-langkahnya pasti menuju kembali kampusnya.  Bahwa saat ini ada seseorang yang menjadi begitu dekat menurut ruang rasanya.  Seseorang yang hadir tiba-tiba dalam tatih perjalanannya.  Yang hadir mengisi sebuah ruang dengan riuh canda dan manjanya.  Namun yang hadir kemudian bukan sebuah rasa, melainkan suci yang lebih agung, yang lebih mempesona.  Walaupun kemudian dia menyadari bahwa dia hanyalah seorang lelaki biasa yang seperti pernah dikhawatirkan sahabatnya bahwa ia sedang berjalan menuju jurang yang dia sadari keberadaannya.  Maka penggembalaan rasa yang satu ini menjadi sebuah cerita indah sendiri, penyusun manik-manik hidupnya yang masih satu-satu.

Hari mulai petang kembali, sore itu tidak lagi ada asa tentang bidadari membayang dalam ruang hatinya.  Hatinya sedang kelabu, seperti sendunya langit biru yang tertutup awan-awan kelabu. Termenung sendirian di Beranda Huriyyah, selepas mencari sebuah kepastian dan meski sebuah pahit yang ia dapati, atau sebuah hal yang tidak sesuai dengan harapnya, setidaknya ia menemukan sebuah kepastian, dan ia telah menentukan sebuah putusan tentang beban silamnya, tidak menyelesaikan masalah memang, namun setidaknya tidak memunculkan ruang masalah baru bagi dirinya.

Sebulan menjelang ke usianya yang ke dua lima.  Langkah-langkahnya masih tak pasti, ia masih berada di sebuah persimpangan, ternyata sehembus angin belum menjadi giliran datang kepada dirinya.  Ia menjadi ragu terhadap apa yang dimilikinya.  Apakah ia akan menturuti apa yang sempat menggema dalam ruang hatinya.  Jika tidak ada sebuah usaha yang mampu dilakukan, lalu kemanakah dirinya harus berpaling.  Ketika semuanya begitu jauh dari genggamannya kepada -Nya kah ? semuanya diserahkan, bahwa dia tidak memiliki daya dan upaya, untuk menggapai apa yang telah dijanjikan-Nya.

(Dalam Renungan Dua hari, Yasmin-Lab Mosi-Plaza Rektorat-GWW-Al Huriyyah)

Dari Hati…

Monday, June 12th, 2006

Aku terjatuh.. bukan seperti selembar daun kering di puisinya DR. Ivan yang paling aku sukai… aku jatuh terhempas.. melayang semakin merendah.. dan kemudian terhempas menemui tanah-tanah retak….

Bukan juga sekarang ini seperti ilalang liar yang tetap mencoba pesat menjulang tinggi dibelantara savana.  Tidak juga seperti seekor rajawali atau seekor merpati yang coba terbang tinggi mengepakan sayap-sayapnya menuju horizon, menjumpai siluet-siluet jingga senjanya.

Aku ternyata hanya seorang lemah, yang terbelenggu oleh pesimisme dan ketidak berdayaan,. Terlalu takut untuk menggapai mimpi-mimpinya.  Terlalu lemah untuk bangkit, dan kemudian berlari kembali.  Terbelenggu dalam hampa,.. atau obsesi-obsesi yang terlalu tinggi.

Bila harap terlalu tinggi disematkan,.. dan jari-jemari terlalu lemah untuk menggapainya,.. mengapa harus tetap diupayakan.  Seandainya saja engkau mampupun, akan menguras energi dan fikir.  Sedangkan arti hidup bukan hanya mencapai asa-asa mu itu.  Mungkin bukan dari jalan itu, jalan-jalan itu bukan bagianmu, seberapa kerasnya engkau berharap dan bermimpi.

Masih ingatkah tentang even-even tak terduga yang menghampiri hari-harimu, dan bila kemudian dirunut, ada jaring emas yang terhubung diantara keduanya.  Dan mimpimu masih tertemui.

Namun aku kembali ke lembah kali ini,.. dan kemudian tengadah ke atas bukit sana.  Bukit itu mengerucut, semakin keatas semakin menyempit volum ruangnya, dan berakhir kemudian disatu titik.  Aku terjatuh dari satu sisi, ah bukankah masih ada sisi yang lain, mungkin jalan itu bukan untuk seseorang seperti aku, atau aku yang enggan berusaha melalui jalan itu.  Namun aku enggan kembali,.. entah akankah aku berani, atau tidak.  Namun haruskah aku terdiam saja di lembah ini, mungkin iya, mungkin untuk beberapa saat.  Tidak untuk mengumpulkan sebuah keberanian,.. namun hanya mencoba mencerna keawamanku.  Bila tujuan itu ada dibukit sana bila tujuannya menggapai puncak bila… Ups.. aku berhenti menengadah ke puncak.  Ah mungkin aku dapat melalui jalan kecil disana,.. jika terus di tuju bukankah menuju puncak juga,.. mungkin tidak terlalu terjal, mungkin tidak perlu banyak membawa alat-alat.  Namun… ketika langkah tetap dapat ditatih mengapa tidak..

Satu perahu akan terbakar, mulai senja ini,.. jika jalanku memang ada disana,.. kenapa juga aku harus membebankan diri atas idealisme yang aku sematkan dalam obsesi –obsesiku.   Jika tak mampu menjadi jalan raya, jadilah saja jalan setapak, namun jalan yang mampu membawa orang ke mata air.  Jadilah saja diriku sendiri, sebaik-baik diriku sendiri (Anonim..1998)

Satu perahu akan terbakar apapun yang terjadi… kerjakanlah saja dari hati,.. dan kau akan menemui indah,.. kerjakanlah saja dengan hati… Tinggalkanlah pahit dan cuka, pegilah ke manis (Rumi)

Intuisi

Wednesday, June 7th, 2006

Al Kisah disuatu masa di belantara tropis,.. ada sekumpulan menjangan yang sedang berlarian di padang rumput,.. bermain-main,.. belajar mempesona hidup.  Terkadang terlihat mereka menjejak kaki mendaki terjal bukit-bukit,.. sesaat terlihat mereka bersama di tepian sungai,.. bermain-main dengan jernih airnya.  Suatu masa terkadang mereka berpisah di belantara,.. berjalan dalam dalam suatu tujuannya masing masing.  Kian hari mereka kian erat dan rekat,.. memproses diri mereka lebih faham, tentang jalan yang harus di tempuh,.. tentang bahu membahu mendaki terjal bebukitan,.. tentang bagaimana bergandengan erat agar tak terjatuh ketika menuruni landai lembah.  Atau bagaimana berlarian menghindar pemangsa yang setiap saat dapat hadir menyergap.  Belajar berbagi , saling memahami,.. tentang makna-makna dari hijau rerumputan yang mereka temui.

Sepasang mata nampak diam-diam memperhatikan gerak langkah kumpulan menjangan itu,.. ketika mereka berlarian, mendaki bukit, menuruni lembah, ketika memamah rumput,.. ketika melalui hari harinya.  Ingin pemilik sepasang mata itu beranjak mendekat, namun perlahan ia urungkan kembali niatnya.  Ia terlalu takut.  Ingin sebenarnya ia berada bersama mereka, menggapai satu-dua pemahaman tentang menjalani hidup yang lebih baik.  Namun ia terlalu takut.  Kemudian ia hanya berjalan di tepian saja menjalani hari-harinya cenderung mengidentikan diri dengan apa-apa aktivitas yang para menjangan lakukan, walau kemudian ia memang bukan kelompok para menjangan itu.

Kemudian, suatu masa akhirnya ia memberanikan diri,.. menarik diri dari ruang abu-abunya.  Menghampiri perlahan-lahan kelompok menjangan itu.  Setelah ditetapkan dalam hatinya, dan hap kemudian ia melangkah.  Walau dalam hatinya masih ada was-was yang tersisa, namun ia tetap melangkah.  Sampai ia kemudian di tepian terluar.  Saat itu para menjangan sedang ada di padang rumput yang menghampar hijau, dalam sepoi-sepoi angin ayng sejuk.  Ada asa yang membuncah dan bergelora dari sang pemilik mata.  Aku ingin berada bersama kalian bisik hati kecilnya.

"Bolehkah aku bergabung bersama kalian..", tuturnya lirih, pada menjangan terluar yang terdekat dengannya.  Menjangan itu tersenyum, dan menyambutnya hangat,.. ah mari kesini saudara kecilku,.. tuturnya, sekian lama aku memperhatikanmu mengawasi kami, sebenarnya sejak dahulu aku hendak bertanya,.. mengapa kau bersembunyi selalu disana,.. dan tidak kemari bersama kami.  Pemilik sepasang mata itu tersenyum,.. Aku terlalu takut untuk bersama kalian,.. aku tidak mampu berlari secepat kalian,.. tidak mampu mendaki cepat terjal bebukitan,.. tidak tahu bagaimana berlarian, menghindar atau menggapai harapan-harapan.

Diam kemudian hadir,.. "Oleh karenanya itu kami disini,.. kami belajar bersama..", tutur menjangan terdekat itu sesaat kemudian. Sesungguhnya ia telah mengenal beberapa menjangan di kumpulan itu ternyata.  Sahabat-sahabat dekatnya dalam kesendirian.  Bolehkan aku bersama kalian….

Namun kemudian,.. yang dikhawatiri oleh hati kecilnya, yang kemudian menyeruak muncul,.. bahwa kehadirannya tidak sama,.. tidak akan sama,.. karena ternyata ia belum mempelajari apa-apa yang mereka pelajari,.. ia belum memahami apa-apa yang mereka pahami.  Setidaknya dalam strukturisasi mereka.

Pemilik sepasang mata itupun akhirnya memilih beranjak pergi,.. semestinya ia seharusnya ia tetap ada disitu,.. mempelajari apa-apa yang harus dipelajari.  Namun kemudian ia beranjak pergi,.. entah ingin menyendiri kembali mungkin, atau kembali bersembunyi,.. atau… "Bukan salahku kan..", lirihnya dalam perjalan pulang,.. "Bukan salahku kan jika aku tidak bersama mereka selama ini….", "bukan salahku kan… jika aku tidak seperti mereka..",.. "bukan salahku kan… jika aku tak sefaham mereka..",.. lirihnya berulang ulang..

Ia beranjak perlahan,.. perlahan dan kemudian mencoba berlari riang,.. mungkin ia tidak mampu berlari cepat,.. mungkin ia tidak bersegara mendaki terjal bukit,.. mungkin dalam semuanya ia bergerak lambat,.. namun ‘aku masih bergerak juga ‘ hiburnya pada diri sendiri,.. aku masih mencoba mendaki terjal itu,.. aku masih mencoba memahami terjal-terjal jalan ini,.. entah mungkin tak secepat mereka,.. namun semoga saja tujuannya sama,.. dari jalan manapun…  mencoba menjadi lebih baik mungkin,.. menjadikan belantara ini lebih indah,.. lebih bersama dan lebih berbahagia,. untuk semua menggapai jalan-jalan asa dan mimpinya.

Dan terakhir terlihat ia berlari menuju sebuah kelokan,.. entah kembali menuju liar,.. atau masih mencari-cari sebuah jawaban,.. setidaknya ia masih punya mimpi sama,.. membangun peradaban,.. terakhir terlihat sih.. masih mengejar mimpi membangun peradaban.. di sebuah bentuk lain.

Setiap diri ternyata ada jalan-jalannya sendiri,.. ternyata berbeda itu indah,.. saling melengkapi satu dengan yang lainnya,.. lalu mengapa kemudian mesti serupa..

Ah entah.. matahari sudah mulai menghilang, dan hari beranjak senja. belantara mulai gulita,.. dan malam pun tiba,.. semoga saja pemilik sepasang mata itu tak kehilangan arah berjalan dalam gulita.

Bilakah Ia Hadir

Wednesday, June 7th, 2006

Usianya 26 tahun kini,… beranjak cepat tidak
terasa sungguh.. waktu berlari.. melampaui masa
perlahan senyap,.. lalu menghilang.. berganti-
ganti.. pagi menapak siang.. lalu menjadi senja..
malam tiba.. dan kemudian esok pagi bergulir
kembali…

Dan 26 tahun berlalu sudah…. ingin dia merenung
sejenak tentang jejak langkah perjalanan
hidupnya,.. tentang masa-masa yang dilaluinya..
tentang mimpi-mimpi yang ingin diraihnya..
tentang idealismenya.. (punya idealisme ga..
yah.. :D). Bernostalgia tentang tahun lalu..
dimana hari-harinya saat itu begitu mendamba
sehembus angin tiba. Tentang alur-alur masa
depan yang tidak pasti saat itu,.. tentang langkah-
langkah selepas kuliah.. tentang kerja intinya..
harus kemanakah… ingin dia tetap menjejak
langkah di koridor idealismenya.. di bidang yang ia
yakini ia mampu berkembang disana,.. disatu sisi
hidupnya harus terus bergerak.. mengais satu dua
tapak menyambung langkah.. dan jadilah ia
seperti terobang ambing, tidak ada gerak
langkah,.. tidak ada gerak maju dari sudut
pandang sana,.. walau sebenarnya ada bara yang
menggelora di ruang-ruang sana.. namun tidak
tahu bagaimana menyalakannya.

Usianya 26 tahun kini…Ia tidak lagi mendamba
sehembus angin,.. setidaknya saat ini ia sedang
merenda jalur kehidupan di jalan-jalan terjal yang
ia harus melaluinya.. karena terjalnya indah.. dan
penuh pesona semoga ia mampu melaluinya.. dan
meraih hembusan angin yang kokoh untuk
mengangkat sayap-sayapnya mengepak tinggi
menuju angkasa asa nya.

Usianya 26 kini,.. ia masih awam tentang dunia
ternyata,.. sungguh ia tidak tahu apa-apa,.. begitu
banyak yang masih ia pelajari.. sementara ia
merasa dirinya semakin bebal dan tumpul dalam
menyerap makna-makna. Namun segala sesuatu
harus terus dicoba.

Dan adalah wawasan yang terbatas yang dia
miliki, atas segala keterbatasan yang ia
miliki,..dan atas semua kelemahannya ia masih
berharap akan satu mimpi,.. bilakah ada sebuah
kepercayaan baginya untuk mendayung sebuah
bahtera,.. menempuh sebuah dunia baru..
kapankah ia tiba..

Jika dulu pernah ada sebuah harap akan dekat
persahabatan,.. ketika aku bermimpi bahagia itu
ada disana,.. ketika aku bermimpi tiba saat
melabuhkan bahtera disebuah darmaga,.. ah andai
aku tak terlalu berharap.. atas jalan keliru yang
aku sadari sebenarnya,.. bahwa aku sedang
bermain-main berjalan menuju lembah yang aku
ketahui keberadaanya…

Kemudian, bila kini aku memintal sebuah harap
kembali,.. bolehkah.. semoga kali ini jalan-
jalannya lebih baik,.. walau kemudian aku sadari
aku belum berhak dan belum layak,..kemudian
kuuntaikan bait-demi bait yang tertulis,.. ingin
kuputihkan hati dan kuluruskan niat…Ya Allah ya
Rabbi Izinkanlah aku mendamba dan memohon
dalam serba keterbatasan dan ketak
mampuanku,.. ketak tahuanku,.. keawamanku dan
atas sebuah asa yang mencari penawar rindunya..

Ya Allah bila kemudian ini adalah jalan-jalan kami
yang harus ditempuh,.. izinkanlah kami bersama,..
menyatu dalam sebuah ikatan,.. saling memberi
dan saling menerima,.. bahu mebahu mendayung
bahtera menuju suatu cita. Ya Rabbi,.. jika
kemudian jalan-jalan ini adalah jalan yang Engkau
Ridhai-i untuk kami,.. izinkanlah kami melangkah
bersama,.. belajar menerima apa-adanya,.. dan
memberi yang terbaik dalam gerak langkah saling
mengawasi dan mengingatkan dan saling padu
meniti jembatan kehidupan. Ya Allah, jika
kemudian jalan-ini adalah jalan kami.. maka
teguhkan dan ikhlaskan hati-hati kami.. untuk
memilih jalan ini,.. mencari serpihan mutiara…
atau hanya segumpal asa dalam samar gulita
pandang kami. Cerahkanlah dan lapangkanlah.
Siapapun dia.

Ya Rabbi, Ya Allah Yang Maha Memiliki,.. jika
jalan-ini bukan jalan kami,.. maka tuluskan lah
kami untuk memilih dari relung hati terdalam,..
bahwa Gerak langkah ini tiada akan pernah henti..
dalam rangkaian Mencari dan Mendamba RidhaMu

Ya Rabb… Tunjukan jalan-jalan terbaik bagi kami..

Aamiin

Nostalgia

Tuesday, June 6th, 2006
Pernah suatu ketika
ada hati yang terpesona
oleh rinai-rinai gerimis yang merintik
berbunyi lamat-lamat di ujung genting
dan kami berlarian
riang dalam nyanyian awan,..
padahal ia sedang menangis sedan

Pada sebuah masa,..
angan itu terpasung…
menjaninkan inspirasi, yang memijar
mematri mentah,..
memahat kerikil, mencari murni

Belum pernah ada angan
sebelumnya,..
yang menghadirkan konsistensi,…
sehingga menggapainya adalah sebuah ingin
naman ternyata jalannya tak tertemui,..
ada jembatan yang terputus
dipersimpangan…
ketika hati ini selalu kembali,
setelah mencoba pergi
membunuh dan memendamnya jauh-jauh
namun nafs ini selalu kembali

Entah atas sebuah wujud apa,..
sebuah naluri yang ta kufahami

Di sebuah masa ini,..
ada suatu harap yang sedang kupahat
Tentang jalin masa depan,…
sebuah mimpi
dan semuanya dalam labil,…
tertatih dalam arah yang samar
bukan kelabu,..
bukan hitam
bukan tanpa arah,…

Hanya terlalu banyak arah

Datanglah -datang
wahai sebuah nama yang mencitra
datanglah -datang,…
karena ada hal yang sedianya harus segera terpenuhi
kemarilah,.. duhai kemari,…
biarkan mentari mencahayai mu,..
sehingga nampak olehku,…
dan ada nyata yang dapat kugenggam,..

Oh iya,..
setelah sebuah masa sebelumnya
ada sebuah komitmen
yang aku belum berani untuk kembali
menapakinya
karena ku masih belum berani

Aku ini masih lemah,..
belum berani menantang badai
walaupun ternyatai mungkin
itu hanya ilusi
kau tak tahu kan…?

hanya
Saat ini aku belum ingin
entah kapan…