dengarlah bagaimana dahan menangisi daun-daun jatuh
"tidakkah kaupahami lukaku? seluruh kerinduan itu?"
sementara daun-daun hijau dibiarkannya tumbuh
hanya bumi tak mengeluh, tengadah membuai takdir itu
Aku terjatuh ketika kukira diriku adalah sehelai daun kuning, yang terlontar oleh getar sebatang ranting, yang limbung oleh bisikan angin, saat mengabarkan datangnya musim dingin.
Aku masih terjaga, melayang dalam pesona keindahan luka yang merekahkan putiknya, yang sigap merengkuh tenggelam dalam kelopak-kelopaknya, yang membius dalam gema semerbaknya, saat teriakan gagak melontarku pada pusaran tanya, Mengapa?
Apakah kidung cinta yang kita tiupkan bersama kabut pagi tak pernah memiliki makna
Apakah pesona bianglala hanya membutakan mata daun-daun yang hijau belia
Sementara gemeretak ranting tak pernah habis dimakan musim
Seperti hidup yang enggan berhenti berdetik meski nurani kehilangan denting
Aku terhempas ketika kukira diriku adalah selembar daun kuning, yang kehilangan dekap hangat sebatang ranting, walau pucuk-pucuk cemara meliukkan isyarat duka, saat bumi mencoba berkabung sia-sia.
Kulihat waktu menari
Menggengam jari-jari Januari
Dan aku melayang ke ujung senja
Menuju pantai yang sibuk menguburkan asa
Dan aku menjelma menjadi duka
Yang ditoreh pada sepotong hati yang merana
Mestinya aku terbang menuju cakrawala
Seperti jiwa-jiwa yang pulang kembali pada-Nya
Seharusnya sayap kupu-kupu menggandeng tanganku
Menuju surga di balik tirai-tirai langit biru
Tapi toh aku hanya selembar daun kuning
Yang dilontar oleh sebatang ranting
Ketika angin utara menyapa
Saat musim dingin kembali tiba
Ivandinita